SUBANG 2019.

CERITA PERMATAKU (CHEVY MOUNTHANA)

Fri, 09/10/2020 20:56 , Admin Open Trip
Share
CERITA PERMATAKU (CHEVY MOUNTHANA)

Mataku terbuka perlahan. Menyapu pandangan sekitar kamar ku yang sudah lama ditinggalkan. Aku baru saja memasuki masa liburan dari lelahnya hari-hari bekerja sepanjang tahun. Saat itu bulan Desember, bulan terakhir sebelum masuk ke fase tahun yang menyusahkan semua orang. Hari itu sengaja aku bangun siang, karena sudah lama tidak merasakan indahnya tidur sepanjang malam. Biasanya sedari shubuh sudah harus dipinggir jalan menunggu bis jemputan, tapi kali ini tidak. Sungguh melegakan. Aku bangkit dari tempat tidur dan bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sebenarnya aku tidak mau pergi kemana-mana, karena bingung tidak memiliki rencana untuk pergi berlibur. Kawan-kawan ku masih bekerja dan malah tidak libur untuk perusahaan retail. Jadi ya, tidak apa-apa lah untuk menggilas bau badan ku yang sudah seperti mayat ini. Selesai mandi aku disuguhi sarapan oleh Ibu. Aku kira semua orang sepakat bahwa masakan Ibu adalah yang terbaik sedunia akhirat. Apalagi nasi goreng buatan Ibu ku ini, ah kau nanti harus mencobanya. Waktu menjelang siang, sang fajar mulai membakar gosong kulit bumi. Aku mencoba untuk keluar rumah dan duduk diberanda depan untuk menikmati indahnya tanaman hydroponic dan udara dingin yang menghembus menghantam lembut wajah ku. Kulihat awan berarak malas terbawa angin menuju sang fajar, dan kemudian langit teduh, seteduh hati ku pagi itu. Dering telepon ku berbunyi. Pesan whatsapp masuk tanpa kompromi. Itu dari teman ku, Cimong. Mengirimkan poster layanan jasa open trip di daerah ku. “Mau ikut gak?” suara Cimong dari telepon sana. “Ke Cileat ya? Aku sih mau. Kalo kamu ikut.” Balas ku. Kalau kau ingin tahu, Cileat adalah tempat wisata air terjun yang berada di daerah Kabupaten Subang. “Gua ikut. Oke lu ikut ya. Nanti gua daftarin.” Jelasnya. Telepo ditutup. Yasudah lah, lagian tidak ada rencana sendiri ku untuk pergi liburan, siapa tahu ini asik, dan bisa sambil usaha mencari jodoh. Pikir ku. Sebetulnya aku diberitahu perihal private trip oleh teman. Dan My Permata Wisata adalah yang terbaik menurutnya. Namun lantaran tidak adanya kawan yang bisa ku ajak, alhasil aku tunda untuk pergi bersama My Permata Wisata. Aku harap liburan berikutnya, aku bisa bersamanya. Tiba satu hari sebelum keberangkatan ku ke Cileat, aku menghadiri rapat acara untuk diarahkan mengenai barang bawaan apa saja yang harus dibawa. Juga beberapa teknik mendaki dan bertahan hidup jika keadaan tidak kondusif. Sial, aku kira ini akan mudah. Teman ku tertawa saja melihat ku gusar, karena dia tahu aku terlalu paranoid jika harus bermalam di sekitar hutan. Agar kau menjadi seorang pemberani, katanya. Baiklah, ini kesempatan ku untuk tidak lagi takut terhadap kegelapan walau aku tahu kematian pun adalah ruang kegelapan. Keesokan harinya kami berangkat pada shubuh hari. Barang-barang sudah dipersiapkan dan anggota sudah berkumpul semua. Kami berdoa kemudian masuk ke dalam mobil masing-masing dan pergi. Mobil membelah udara yang masih beku sepanjang jalan. Alunan musik mulai dimainkan oleh sang supir. Ya, adalah musik dangdut koplo yang mengudara mengisi ruang mobil kami. Diperjalanan aku tetidur lelap. Sudah sampai setengah jalan, teman ku membangunkan. Kami diberi sarapan pagi untuk kemudian mengisi perut yang sudah protes tanpa kompromi. Perjalanan ke Cileat adalah perjalanan mendaki gunung. Apalagi jalan menuju pintu gerbang wisata nya, hanya cukup satu mobil saja. Jika ada mobil lain dari lawan arah maka habis sudah satu mobil harus mengalah. Sang raja siang mulai mengangkasa di cakrawala. Kami sudah berada di loket tiket, hari itu begitu panas. Baiklah kita harus berjalan kira-kira sepanjang 2 kilometer untuk ke tempat air terjunnya, kata pendamping travel. Mampus! Aku kira hanya lima langkah saja. Tapi bubur sudah menjadi nasi, jalan ini harus ku hadapi. Aku berada di barisan depan bersama Cimong membawa perlengkapan tenda. Untuk aku dirikan di sekitar air terjun nantinya. Jalan sepanjang dua kilometer itu sepenuhnya tanah, setapak, dan mendaki gunung lewati lembah. Akan tetapi, mata kami dimanjakan oleh pemandangan alam yang hijau nan asri. Aku tak henti-henti mengagumi alam setiap inchi. Membawa pikiran ku ke dalam Sang Pencipta bumi ini. Alam ingin didengar, dirasa, dan dibaca oleh para manusia, kalimat di dalam buku yang pernah aku baca. Puji Tuhan atas segala firman-Nya. Pukul dua siang. Kami sampai di depan air terjun Cileat. Air tanah tumpah ruah ke bawah, air terjun ini memiliki tinggi sekitar 30 meter, dengan agak lebar dan banyak bebatuan dibawahnya. Tenda sudah kami dirikan dan teman-teman yang lain sudah memandikan badan. Aku beserta barisan pertama belum lagi berniat untuk ikut mandi. Sorak sorai tawa kebahagian membuncah diudara. Bersamaan dengan suara gemuruh air yang jatuh berhasil menciptakan rona liburan yang berkesan. Kupesan kopi hitam di warung dekat air terjun. Asap mengepul. Sedikit kuseruput untuk menghangatkan badan yang sudah agak kaku dihujam dingin. “Sesekali simpanlah handphone mu ketika berada di alam,” suara dari belakang tempat aku duduk. Suara itu agak berat namun tidak mengintimidasi dan meneduhkan. Aku terhenyak. Segera menyimpan HP ku lalu mencari sumber suara itu. “Alam itu perlu didengar, ditadaburi, dan dirasa.” Bagaimana bisa dia berucap seperti kalimat yang ada di buku? Dia adalah Abah Karim. Penanggung jawab acara trip to Cileat ini. “Eh.. hehe. Iya bah,” aku menggaruk kepala yang tak gatal. Sekarang Cimong bergabung bersama kami, kemudian kami bertiga berbincang ringan perihal kehidupan masing-masing. Sampai kemudian. “Terkadang kita harus menjadi mata air Nak.” Ujar Abah yang menghentikan ku menyeruput kopi hitam. “Mata air itu, menghidupkan. Dulu saat nenek moyang Ismail kehausan di padang pasir, Ibunya Siti Hajar melakukan ikhtiar badan dengan berlari-lari ke bukit Sofa dan Marwah. Tapi harapan jauh panggang dari kenyataan. Siti Hajar, tak menemukan air barang setetes pun.” Jelas Abah. Aku tau cerita Nabi Ismail yang legenda itu. Aku juga tau pengorbanan Bapak nya untuk melakukan perintah dari Tuhan menyembelih anaknya. Orang-orang sholeh memang memiliki cara yang unik untuk mengabdi kepada Tuhan nya. “Jadilah kau seperti mata air, Nak. Jernihkan pikiranmu, jernihkan hatimu, agar kau bisa mengalirkan air manfaat pada orang yang sangat membutuhkan. Mensucikan kehinaan, dan pelepas dahaga bagi para pejalan.” Aku menatap Abah dan air terjun secara bergantian. Ada pesan yang menyelam ke dalam aliran darah ku dan tersebar ke seluruh jiwa ku. Dialog kami selalu berakhir dengan kebijaksaan dan kearifan Abah yang mengisi kekosongan jiwa ku, pun demikian dengan Cimong. Hari sudah sore. Hiasan jingga mengisi langit cakrawala. Teman-teman sudah membersihkan diri dan berganti pakaian, hangat. Kami berkumpul di sekitar tenda untuk mendengarkan arahan bermalam di gunung. Kegiatan akan dilanjutkan selepas sholat Isya. Suara adzan menggema di udara, juga diruang jiwa mengusir kekafiran dalam raga. Setelah tadi siang aku berbincang, aku menjadi tahu arah hidup dan arah pulang. Kami tengah bersiap untuk sholat berjamaah. Ini adalah kali pertama aku melaksanakan sembahyang malam di alam. Kekudusan menghampiriku, mengusir kekhawatiran dengan cahaya-Nya yang terang. Me-restart ulang keimanan yang sudah pudar. Air mata jatuh ke tanah tanpa sadar. Aku tenggelam dalam lautan Cinta Sang Maha Kuasa. Abah sudah duduk di tempat berkumpul seperti tadi sore. Dengan cahaya yang temaram dari lilin kami berkumpul duduk melingkar sambil menghangatkan badan. Kegiatan selanjutnya adalah wejangan malam, atau hidangan malam. “Aku memiliki seorang teman yang sangat gandrung akan kejar-mengejar perihal perempuan. Terkadang sampai jadian lalu dia pergi menghilang dan melupakan. Sebenarnya apakah cinta segampang itu, Bah?” salah seorang teman ku memecah keheningan. Wejangan malam dibuka dengan pertanyaan dari seorang teman. “Cinta itu harus ber-Tuhan, jika tidak maka ia ber-Setan,” ucap Abah. Suaranya yang berat membuat fokus ku meningkat. Seperti seorang khotib jum’at sedang berbicara, aku dan teman-teman ku diam menunggu khutbah selesai. “Maksudnya?” Cimong bertanya. “Cinta itu adalah fitrah manusia yang sudah dititipkan oleh Tuhan untuk berkasih sayang dengan sesama makhluk-Nya. Kasih sayang disini bukan sekedar memberi perhatian atau seperti kebanyakan yang anak-anak muda pahami. Cinta itu harus bisa membantu manusia untuk memenuhi tugasnya sebagai Khalifah atau wakil-Nya di bumi. Sangat sayang, cinta hanya dipahami sebatas puncak nafsu saja.” “Tapi bukannya kita berhak untuk memberi perhatian lebih terhadap orang yang dicintai?” aku mencoba memperjelas ketidaktahuan ku perihal cinta ini. “Lalu berapa banyak orang yang kamu cintai?” Abah kembali bertanya kepada kami. “Ya satu lah,” kata seorang perempuan. “Eh bukan, satu dan orang tua,” ujar perempuan disebelahnya. “Semuanya, mungkin.” Cimong ikut menyuarakan pendapatnya. “Jadi berapa?” Abah kembali bertanya. “Cinta itu universal Nak.” Aku mengernyitkan dahi. Bagaimana mungkin cinta bisa universal? Apakah nanti tidak ada kecemburuan didalamnya? “Sang Maha Pencipta tidak membeda-bedakan hambaNya. Cinta begitu universal. Tapi untuk manusia, ke¬universal¬an nya bersifat kondusif. Ada neraca didalamnya. Cinta kepada orang tua berbeda dengan cinta kita kepada teman. Pun demikian kepada pacar. Kita harus mencintai semua yang ada di alam semesta dengan memasukan timbangan didalamnya.” Aku berpikir bahwa Abah ini jelmaan kunci kehidupan yang memberi jawaban-jawaban berdasar. Penjelasan Abah menerangi alam pikir ku. Sedari siang tadi. “Termasuk musuh kita Bah?” kata seorang lelaki di seberang tempat ku duduk. “Ya. Sebetulnya tidak ada yang namanya musuh, selain nafsu angkara dalam jiwa. Karena menurut junjungan kita peperangan terbesar adalah memerangi hawa nafsu, musuh terbesar adalah diri sendiri. Diri yang tidak lagi suci.” Angin berhembus membelai tubuh kami yang menjadi dingin. Jutaan gemintang menjadi saksi bisu atas pencerahan kami perihal cinta malam ini. Aku berdiri, bergegas memesan minuman hangat ke warung kopi sebelah kami. Teman-teman pun ikut titip pesanan kepada ku. Aku kembali dengan beberapa gelas kopi hitam, minuman coklat, dan sereal hangat. Membagi-bagikan minuman tadi sesuai pesanan. “Manusia itu memulai hidup dengan bersyahadat, lalu berjalan dengan bismillah, dan harus berakhir dengan innalillah maka kita akan menjadi insan yang laa haula wa laa quwwata illa billah.” Entah berapa banyak yang ku lewatkan sejak ku pesan kopi ke warung tadi. Perbincangan semacam ini begitu padat bagiku, selalu mengisi alam pikirku yang kotor. Kulihat teman-teman yang lain pun tidak mengerti apa arti dari penjelasan Abah tadi. Tidak ada yang bertanya. Seperti biasa, kami menunggu penjelasan berikutnya. “Nanti akan kamu temukan sendiri mengenai penejelasan tadi, dan jawaban-jawaban atas pertanyaan mu malam ini. Hari sudah sangat gelap. Besok pagi silahkan bereskan tenda dan bergegas pulang. Sudah makan? Abah duluan. Hati-hati besok perjalanan pulang. Sampai berjumpa lagi dalam waktu dekat.” Kami mengangguk. Seusai mengucapka salam, Abah menuruni gunung untuk lebih dulu pulang lantaran ada pekerjaan yang harus segera diselesaikan. Panitia segera mengatur tempat untuk kami tidur. Aku memandang Abah penuh takjub sampai ia menghilang ditelan gelapnya malam. Keesokan pagi nya kami bermain sedikit di kaki air terjun, diguyur mata air bermandikan diri yang segar dipagi hari. Bersamaan dengan cahaya ilmu yang kami dapat semalam. Pagi itu kami merasa bebas, merasa siap untuk menebar kasih sayang untuk alam semesta. Menyelesaikan tugas kami sebagai khalifah di muka bumi. Andai semua orang mengerti akan peran dan tugasnya yang diberi Tuhan, mungkin tidak ada kerusakan dan peperangan yang berangkat dari kesadaran setan, atau nafsu angkara. Tenda sudah dirapikan dan teman-teman tengah bersiap untuk berpulang. Kami mengayunkan kaki, meninggalkan jejak-jejak kenangan dan membawa cahaya baru. Aku memandang air terjun sekali lagi, lama. Teringat kalimat yang pernah Abah ucapkan pada ku kemarin. Kita harus menjadi mata air. Memberi kehidupan bagi tanah, menebar manfaat untuk manusia.

Share

KOMENTAR :