Cerita Dari

Open Trip Pahawang - Kiluan Lampung

Thu, 03/06/2021 09:20 , Admin Open Trip
Share
Open Trip Pahawang - Kiluan Lampung

Ada banyak destinasi wisata yang digagas oleh penyedia open trip. Dari yang domestik sekitaran Jakarta, sampai yang ke luar kota dan bahkan ke luar negeri. Satu destinasi yang baru saja gue kunjungi berada di daerah Lampung. Kebayang destinasi wisata apa yang akan gue kunjungi? Pahawang. Sebuah nama yang mungkin sudah familiar bagi banyak orang pemburu laut, pantai, dan liburan. Pada akhir September tepatnya tanggal 27-29 September 2019, gue mengikuti rangkaian open trip yang digagas oleh travel organizer My Permata Wisata. Dan inilah cerita yang bisa gue bagi. Meeting point keberangkatan dijadwalkan di terminal Kampung Rambutan untuk selanjutnya berangkat ke Pelabuhan Merak. Secara geografis tentu jarak gue yang ada di Tangerang akan lebih cepat dan dekat untuk ke Merak. Sehingga gue memilih untuk ketemu di Merak. Gue janjian sama temen gue, Sofia, di Transmart Cikokol sekitar jam 18.30 biar bisa santai buat isi logistik dan tukar cerita. Jam21.00 kami naik bus ke Merak dengan tariff Rp.25.000. Karena berangkat hari Jumat, jadi bus penuh banget. Beruntung gue sama Sofi masih bisa duduk berdampingan. Betul aja. Gue sampe lebih dulu. Bayangan gue tentang pelabuhan sangatlah menyeramkan. Entah mungkin ada preman, ada begal, ada pelaku kriminal lain. Gue takut sebenernya. Juga sama calo-calo yang setengah maksa. Tujuan gue saat turun dari bus adalah mencari Alfamart dekat loket penjualan tiket seperti yang diminta Yanti, tour leader kami. Sempet nanya ke orang yang ada di situ tapi jawabannya meragukan. Katanya Alfamrt adanya di luar. Untung aja intuisi untuk ikutin penumpang lain bener adanya. Sampailah di tempat yang dijanjikan. Sekitar 20 menit kemudian barulah rombongan dari Kampung Rambutan datang. Total peserta ada 7 orang, plus 1 anak usia 3,5 tahun, dan satu orang tour leader. Open trip ini terasa seperti private trip. Di Kapal Masuk ke dalam kapal membawa ingatan gue ke masa SD, ketika terakhir kali naik kapal Ferry tujuan Lampung demi menghadiri acara pernikahan saudara sepupu. Yang ada dalam ingatan adalah melihat anak-anak pemberani yang loncat dari kapal ke laut, betapa akhirnya gue beli alat pembuat pola gambar, melihat bokap nyobain main catur 3 langkah dengan hadiah bergepok rokok, atau juga pengalaman menangis sampai tertidur karena dimarahi bokap ketika ingin keluar dari mobil dan pintu mobil yang gue naekin ngebentur kendaraan lain. Wah, ada banyak kenangan. Heran juga kenapa gue masih bisa mengingatnya. Balik ke cerita. Kami semua akhirnya memilih tempat di area lesehan. Kena tambahan biaya sebesar Rp. 10.000 per orang di luar harga tiket kapal sebesar Rp. 15.000. Awalnya gue liat dari dek kalau area lesehannya keren dan nyaman. Model single dengan colokan masing-masing tepat di atas kepala. Sebagai kaum Twitter rebahan, itu udah mewah banget buat gue. Yang gue dapet ternyata berpetak-petak tempat lapang dan kita bisa tidur di manapun. Sayangnya gak ada ketentuan seberapa banyak maksimal manusia dalam satu petak itu. Jadinya khawatir over capacity dan bikin gak nyaman. Tapi biar begitu gue tetep ngerasa bersyukur dapet tempat di situ karena kalau dipikir-pikir bakal rempong kalau mesti cari tempat lagi. Perjalanan ke Bekauhuni bisa menghabiskan waktu 3 jam. Setelah perjalanan 3 jam dari Tangerang dan besoknya ada banyak kegiatan menyita energi, tidur adalah solusi yang paling rasional. Kapal akan bersandar dan orang-orang mulai turun. Gue dan Sofi yang emang dasarnya doyan eksplorasi dan pecinta keindahan alam memilih ke pintu sebelah untuk menuju dek. Sebatas melihat pemandangan dari kapal dan menunggu mentari muncul. Menunggu keindahan arunika dengan antusias, namun gak kesampaian karena Yanti menanyakan posisi kami. Mereka sudah di luar. Celaka. 28 September 2019 Menuju Pelabuhan Ketapang Kami dijemput oleh dua kendaraan yang akan menemani perjalanan selama tour berlangsung. Gue, Sofi, dan satu keluarga (Mas Wasfi,istri, dan putrinya Oi) naik satu mobil. Sementara Vina, Nissa, dan Mbah didampingi Yanti naik satu mobil lainnya. Kami sempat sholat subuh di sebuah musholla di pinggir jalan. Perjalanan ke Pelabuhan Ketapang memakan waktu sekitar 3 jam. Untuk mempersingkat waktu, mobil yang gue naikin masuk ke jalan tol. Yup. Lampung sekarang punya tol. Menurut supir, jalan tolnya nanti tembus ke Palembang. Seinget gue nantinya jalan tol ini bakal terus sampai ujung (Medan) dan jadi jalan trans Sumatra. Coba aja kita nantikan gimana kelanjutannya. Gue sih ngedukung yah dengan adanya infrastruktur yang cakep. Sebelum ke Ketapang gue sempet makan nasi uduk di pinggir jalan. Nasi uduk dengan komposisi bihun, tempe orek, dan perkedel kentang diganjar dengan satu lembar uang sepuluh ribu. Cukup mengenyangkan meski gak disuguhi kerupuk sebagaimana lazimnya nasi uduk disajikan. Dengan kondisi perut kenyang itu kami sampai di pelabuhan Ketapang dan bergegas mengganti pakaian untuk naik ke perahu dan memulai eksplorasi. Snorkeling Time Daya tarik utama dari wisata di Pahawang adalah snorkeling. Menurut banyak orang termasuk cewek gue, rugi kalau ke sana gak snorkeling soalnya bagus. Untuk ke spot snorkeling gue dan rombongan mesti naik perahu dan melakukan perjalanan sekitar 50-60 menitan. Sepanjang perjalanan gue cukup antusias ngeliat air laut dan bukit-bukit di kejauhan meski awan dan langitnya gak sebagus waktu gue trip ke Belitung. Kondisi peserta trip yang minim membuat kami lebih leluasa di perahu. Mamang perahu ngebawa kami ke Pulau Kelagian Lunik terlebih dahulu sebelum ke lokasi snorkeling. Sebuah keputusan yang bagus sekaligus meningkatkan antusias liburan. Pulau Kelagian Lunik Perahu masih jauh tapi pemandangan di depan mata amat menggoda. Bayangkan, air yang bening dengan ombak yang tenang dan pasir putih menghampar. Bukankah itu menarik? Belum lagi ketika kita lihat ke depan ada pemandangan alam lain berupa bukit. Terasa magis. Ketika perahu bersandar dan kaki menginjak air laut, kegembiraan itu begitu nyata meski panas matahari begitu menyengat. Tapi tak apa. Pasir yang gue injak itu ternyata halus. Bisa jadi itu adalah pasir terhalus yang pernah gue injek. Gue baru sadar itu pas si Sofi bilang kayak gitu. Iya juga ya. Gue sempet foto-foto di situ dan foto bareng peserta trip. Kondisi pantai yang aman buat keluarga karena airnya tenang. Selain foto-foto, di lokasi itu juga ada water sport berupa banana boat dan donut. Gue kurang tau berapa biayanya. Sayangnya kami gak bisa berlama-lama di situ karena harus ngejar lokasi lainnya. Jadinya gue belum bisa eksplor lebih jauh padahal tempatnya menarik. Peserta tour lain, Vina, bercerita bahwa di sudut lain pulau itu ada tanaman bakau yang juga menarik. Snorkeling Pahawang Besar Kami sampai di spot pertama. Lokasinya di Pahawang Besar. Untuk bisa menikmati snorkeling ini gue mesti keluar Rp. 55.000 buat satu set alat snorkeling termasuk kaki katak. Indah banget lho men. Ada banyak ikan hias yang begitu responsif. Dari yang satu warna hingga banyak warna. Aneka bentuk, aneka warna, aneka ukuran ramai dijumpai di tiap mata memandang. Belum lagi terumbu karang yang juga dekat sehingg kita bisa lihat ikan-ikan itu bersembunyi dan bermain-main di setiap sudut karang. Gue ngerasa bahwa bener yah, keanekaragaman hayati kita emang dahsyat. Indah dan seneng liatnya. Selain ada pemandangan ikan dan karang, di lokasi ini juga banyak batu bertuliskan Pahawang dsb yang air cocok dijadikan latar untuk foto. Sialnya, Yanti gak bawa kamera underwater jadinya aktivitas di dalam air gak bisa didokumentasikan dengan baik. Kayaknya gue emang gak berjodoh sama foto di dalam air soalnya waktu di Belitung juga gitu. Gak ada yang bagus. Juga pas di Untung Jawa. File-nya ilang semua. Huft. Pahawang Kecil Kami mesti pindah sebentar untuk ke lokasi kedua. Di lokasi kedua ini ikannya lebih agresif dibanding di lokasi pertama. Mereka gak cuma makanin roti dan biscuit sebagai umpan. Tapi juga nasi dari jatah makan yang dibagikan. Gue turun sebentar. Niatnya mau lama tapi Nissa sempet ngasih tau kalau ada ular laut. Ini cukup bikin gue khawatir. Meski gue gak ngeliat adanya uler laut tapi pas banget ketika gue beberapa kali kena sengatan ubur-ubur, gue milih buat naik. Cuma Nissa aja yang explore lebih jauh. Katanya di tempat yang dia datangi lebih bagus. Lebih dangkal sehingga jarak pandang lebih jelas. Santai di Pantai Apa Namanya Kalau gak salah namanya Pulau Pasir Timbul. Atau Pulau Gosong. Gue gak inget apa nama pastinya. Yang jelas di pulau ini ada satu resort pribadi dan kita gak bisa ngedeket ke situ. Pulaunya sendiri punya tekstur bebatuan tajam sehingga perlu pakai alas biar gak terluka pas jalan. Ada tanaman bakau dan riuh pohon kelapa serta vegetasi lainnya. Cukup adem. Tapi di satu sisi cukup gersang. Bukti bahwa banyaknya tanaman dapat mempengaruhi lingkungan. Gue sama Sofi cuma makan siang di sini. Makan siang ini merupakan jatah yang dikasih dari travel organizer. Isinya nasi, ayam goreng, sambel, dan sayur tumis berisi kacang panjang dengan tempe. Oh ada kerupuknya juga. Selain makan nasi kotak, gue juga pesen kelapa muda. Harganya termasukmurah. Cuma Rp. 10.000 untuk satu buah kelapa muda. Termasuk murah lah yah. Sempet eksplor sedikit ke area yang lebih banyak pepohonan. Sebenernya penasaran sama resort yang ada di situ. Tapi ada plang bertuliskan bahwa tanah itu merupakan tanah pribadi dan diberi pagar dari tali yang diikat pada patok menandakan bahwa itu adalah daerah yang khusus sehingga gak bisa dilewati sembarang orang. Dua tanda itu bikin gue gak bisa eksplor lebih dalam. Tanjung Putus Menurut Yanti dan mamang perahu, lokasi snorkeling ini tergolong baru. Cukup masuk akal soalnya gak ada perahu lain di lokasi ini. Cuma perahu kami aja. Dan gak ada penjaganya. FYI, di tiap pulau atau spot snorkeling itu biasanya ada orang yang jagain dan narikin retribusi (entah legal atau illegal) ke perahu-perahu yang bawa rombongan. Gue ngeliat ini di Kelagian Lunik, Pahawang Besar, dan Pulau Apa Namanya Lupa. Persis kayak mamang parkir di Alfamart, mereka nagihnya pas perahu mau keluar. Di lokasi ini ikannya cenderung sedikit. Pas dikasih umpanpun mereka gak ngedekat kayak di lokasi lainnya. Semula semuanya mager buat nyebur. Cuma Nissa yang masih semangat. Perjalanan yang cukup jauh bikin gue (dan mungkin yang lain) tertidur buat ke Tanjung Putus sehingga rasanya cukup mager buat balik nyebur. Karena cuma satu orang yang nyebur akhirnya mamang perahu ikut nyebur bahkan sampai nyelam. Pas dia naik dia bawa oleh-oleh berupa bintang laut. Langsung teringat Patrick. Gue ikut nyemplung di sini soalnya mikir gak akan ke sini lagi dalam waktu dekat jadi harus gue manfaatin. Oh ada satu pengalaman agak aneh buat gue. Itu terjadi ketika air laut yang suhunya berbeda-beda. Di satu titik airnya hangat namun di bagian lain terasa lebih dingin. Gue kurang tau kenapa. Apa mungkin air hangat itu karena gue baru aja kena pipis orang? Kiluan Seharusnya kami melakukan pembilasan di Tanjung Putus sebelum kemudian naik kendaraan untuk ke homestay di Kiluan. Tapi karena airnya habis jadi dibatalkan dan bilas di homestay aja. Perjalanan menuju homestay sekitar 90 menit. Gue agak sedikit tertidur untuk sampai ke sana. Untungnya di beberapa jalan besar semua sudah dibeton. Jadinya aksesnya mulus. Pas bangun tidur gue dikasih tau Sofi kalau ada satu ruas yang bolong sangat besar (kayaknya gara-gara longsor) dan gak ada papan peringatan atau ditutup apa gitu. Jadinya kebayang kan kalau ada orang ngebut, gak tahu ada lobang sebesar itu, langsung modar kayaknya. Soalnya jalannya itu ada di bukit, bawahnya jurang. Gue baru bisa lihat langsung pas perjalanan pulang dan… anjay. Gak banyak kegiatan yang dilakukan di homestay. Setelah bilas dan pembagian kamar, kami cenderung santai sambil nungguin makan malam. Gue gak terlalu mempermasalahkan homestay-nya. Cukup nyaman buat gue. Apalagi ada akses minum tak terbatas dan pemandangan langsung kea rah teluk bikin suasana jadi lebih tentram. Gue kebagian kamar yang lebih luas meskipun cowoknya cuma berdua. Kamar dipisahkan berdasarkan jenis kelamin. Kami tidur untuk agenda penting di pagi hari yaitu berburu ubur-ubur lumba-lumba. 29 September 2019 Berburu Lumba-Lumba Pagi hari setelah sholat subuh, mamang perahu datang bawa pelampung buat dipakai oleh kami. Kami naik kapal jukong dengan kapasitas maksimal 3 orang dalam satu perahu. Gue naik bareng Yanti dan Sofi. Perjalanan ke lokasi hunting memakan waktu sekitar 60 menit. Guys, gue merasakan pengalaman yang magis ketika di perahu karena apa yang gue lihat. Ada bukit hijau yang ditutup kabut, cahaya mentari yang tiba-tiba muncul dari arah Timur, air laut dengan arus yang besar, dan juga ribuan ubur-ubur yang bisa dilihat dengan mata telanjang. Ditambah lagi dengan luasnya ar laut yang seketika terasa seperti sebuah kain besar berwarna perak yang terbentang dan digoyangkan. Magis sekali. Ketika cahaya mentari muncul di sebelah timur, gue baru ingat kalau arah perahu kami adalah menuju Selatan. Seketika teringat penguasa Laut Selatan. Gue cukup beruntung bisa ngeliat lumba-lumba itu. Kata mamang perahu, airnya kurang bening dan arusnya begitu kencang. Dua faktor itu yang bikin lumba-lumba terlihat sedikit. Bahkan katanya sering terjadi pada pemburu lumba-lumba bahwa mereka pulang tanpa menemukan apapun. Jadi gue masih lebih beruntung ya. Momen ketika lumba-lumba itu muncul ke permukaan di dekat perahu itu asyik sekali. Seneng sih ngeliat mereka bisa hidup di habitat aslinya. Pulau Kelapa Serius, satu perahu merasa mual. Termasuk gue. Untungnya sih gak sampai muntah. Mual gue ini terasa karena ombaknya yang bikin gue ngerasa terombang-ambing. Sama satu lagi. Gue curiga kalau asap buangan dari motor penggerak baling-baling yang dipasang tepat di depan gue adalah penyebabnya. Asap buangan langsung terhirup ke hidung gue. Semoga bukan karena itu ya. Sampai akhirnya kami singgah di Pulau Kelapa sebelum balik ke homestay. Ini pulau asik banget men. Ada sekitar 10 kamar yang bisa disewa, tapi gak tau berapa harganya. Ada sumur dengan air yang harus ditimba. Ada pedagang yang jual makanan dan minuman standar kayak Pop Mie dan aneka kopi sachet. Tempat ini cocok buat nyepi atau buat camping. Serius deh. Selain itu pemandangannya juga asik. Di satu sisi ada bagian yang cukup kasar dengan menghadap ke air laut langsung sehingga ombak cukup terasa lebih sering dan lebih deras. Sementara di sisi satunya air terlihat lebih tenang. Ada juga bebatuan dan batang kayu besar yang bisa dipakai sebagai ornamen penghias foto. Ketika yang lain sedang asik bersantai dan beristirahat, gue dan Sofi memilih buat eksplorasi sampai akhirnya Yanti ikut dengan kami. Sayangnya pas lagi asyik berfoto, kami dipanggil untuk kembali ke kapal. Menuju Laguna Gayau. Laguna Gayau Jarak menuju Laguna Gayau hanya sekitar 300 meter. Gue pikir ini jarak yang bisa dijangkau dengan mudah. Ternyata gue keliru karena medannya yang harus menanjak sekitar 45 derajat. Ternyata untuk sampai ke lokasi ini gue perlu buat naik bukti dulu. Terus turun ke bukit. Pemandangan dari atas terlihat menjanjikan. Jadi, hayu lah. Untungnya akses ke lokasi udah enak karena ada tangga yang udah dibeton. Juga ada tempat singgah buat istirahat tepat di tengah-tengah pendakian dan penurunan bukit ke lokasi. Kata guide lokal, tempat ini jadi sedikit terpelihara sejak dipegang sama pemerintah. Dan ada instruksi keras buat siapapun yang mau ke sana harus didampingi sama guide lokal karena pernah ada kejadian pengunjung yang terseret ombak ketika mencoba berenang di Laguna Gayau. Laguna Gayau ternyata tempat dengan batu karang hitam yang begitu besar. Ada dua bagian yang ada airnya dan bisa dipakai untuk berenang andai ombaknya gak gede. Sebelumnya udah dikasihtau sama guide lokal kalau gak janji bisa berenang di sana karena alam gak bisa diprediksi. Gue meyakini ini dan inget kalau Maret lalu pernah gak bisa pulang dari Pulau Pari karena kondisi angin laut yang begitu kenceng. Kondisi Laguna Gayau juga kurang bagus buat berenang pas gue ke sana. Kami mesti nunggu sekitar 20 menit buat yang mau turun dan bermain air. Ombak yang besar bikin aktivitas berenang gak bisa leluasa. Guide cuma ngizinin sebatas di dekat dengan baru besar dan harus pakai pelampung. Gue rasa siapapun yang ke sana perlu berterima kasih sama mahasiswa UIN Jogja yang ngadain Kuliah Kerja Nyata (KKN) di situ. Karena mereka bikin semacam landmark dan sign-sign untuk mempercantik objek wisata Laguna Gayau. Karya mereka yang paling jelas ada pada sign tepat di atas karang Laguna Gayau. Selebihnya gue kurang tau bikinan siapa. Apakah bikinan mereka atau bikinan pemerintah. Atau justru bikinan warga sekitar. Terima kasih anak-anak UIN Jogja Hmm.. Pulang Selesai Dzuhur kami berangkat pulang. Nasi goreng sisa sarapan masih tersisa banyak. Gue sama Mbah memilih untuk melanjutkan makan siang dengan sarapan nasi goreng itu. Sebuah langkah yang tepat karena lamanya perjalanan dari Kiluan ke Pelabuhan bikin perut lapar. Terutama yang dialamin sama mas Wasfi yang semobil sama gue. Sejak gue di Lampung, mas Wasfi berulangkali ngajak mampir ke tempat makan bakso Sonhaji. Menurutnya itu terenak se-Lampung yang juga diamini sama mamang supir. Katanya kalau sempet tolong mampir. Keinginan itu terwujud karena lapar yang melanda perlu pelampiasan. Padahal ini gak ada dalam itinetary. Mungkin karena peserta yang sedikit jadinya bisa mampir ke Sonhaji. Gue pribadi suka sama baksonya. Untuk satu porsi bakso dengan bihun dijual seharga Rp. 17.000. Baksonya enak ** Sampai di Merak pas Magrib. Awalnya gue pulang naik Ferry biasa seharga Rp. 15.000. Mas Wasfi kasih ide buat naik yang eksekutif dengan harga Rp. 50.000. Alasannya sederhana ; kami ingin cepat sampai. Sebagai perbandingan aja, kalau kita naik kapal Ferry biasa waktu yang harus ditempuh selama perjalanan sekitar 3 jam. Sedangkan kalau naik yang eksekutif hanya butuh waktu 1 jam. Kapal yang akan kami naiki itu baru tersedia jam 7 malam. Emang ada jadwalnya. Padahal masih setengah jam dari keberangkatan tapi tiap calon penumpang udah harus segera naik ke kapal. Gw paham sih ini pasti biar tepat waktu. Tiket kapal Ferry Enaknya naik yang eksekutif ini kita bisa bebas pilih tempat. Ada yang kursi sofa, kursi rotan, dan yang agak eksklusif di deck samping. Gue pikir itu VIP yah. Tapi setelah bertanya ke petugas yang jaga ternyata itu bebas dan gak ada tambahan biaya apapun. Tinggal masalah siapa cepat aja. Gue sendiri terpisah sama yang lain. Gue sama Sofi duduk di kursi rotan dengan kondisi gak nyaman karena penumpang di sebelah yang rame banget. Biasa, anak kecil. Tapi orangtuanya cuek banget. Bukannya dijagain yah. Malah dibiarin. Kan ganggu penumpang lain. Udah gitu keluarga itu juga ambil spot kursi sofa banyak banget. Yang harusnya bisa ditempatin 16 orang jadi dipake sama mereka yang Cuma 7-9 orang. Duh jadi ghibah. Anyway kami sampai di Terminal Eksekutif Merak dan berpisah di sana. Gue naik bus yang ke Kalideres dan turun di Bitung. Sementara Sofi naik ke Gebang. Yang lain menyesuaikan dengan tujuan masing-masing. Malam itu ditutup dengan perpisahan dan foto bersama. Trip ke pulau Pahawang – Kiluan pun resmi berakhir. ** REVIEW Oke ini saatnya review. Yang pertama akan gue review adalah… travel organizer-nya. Event Organizer Seinget gue alasan gue pilih My Permata Wisata karena ngeliat cuma dia aja yang kasih open trip ke Kiluan. Dan web-nya juga menjanjikan bahwa berapapun diberangkatkan dan gak ada tambahan biaya. Itu terbukti dengan tetap terlaksananya kegiatan open trip meskipun pesertanya cuma ada 8, termasuk anak kecil. Awalnya gue pikir kita bakal digabung sama peserta dari travel organizer lain layaknya open trip pada umumnya. Tapi mereka enggak. Itu yang gue bikin open trip ini berasa kayak private trip. Apalagi mampir ke Sonhaji yang sebenernya gak ada dalam itinetary. Yanti sebagai tour leader cukup komunikatif dan ramah. Sering ikut foto-foto dan minta difotoin sampai kami bercandain ini yang tour sebenernya siapa. Haha. Tapi dia asyik kok. Gue inget betul pas malam hari di homestay, dia, gue, dan Sofi tukeran cerita dan kasih masukan dari tiap kisah asmaranya. Yah, dia curhat… Yang kurang dari tour ini menurut gue adalah… TIDAK ADA DOKUMENTASI UNDERWATER. Huaaaa…. Jangankan underwater, kamera professional aja gak ada. Maka dari itu gak ada kan tuh foto-foto gue pas lagi snorkeling. Padahal kan asik banget di bawah laut. Untungnya Yanti pakai handphone dengan kamera yang mumpuni. Beberapa kali foto dari kamera dia berakhir dengan rasa puas ketika melihat hasilnya. Ketiadaan dokumentasi ini sebetulnya gak begitu jadi salah mereka karena di daftar informasi paket tour ini memang gak menyertakan dokumentasi sebagai bagian dari paket tour. Saran aja buat mereka, masukin dokumentasi ke dalam budget tour. Gak apa-apa kalau misalnya agak naik tapi ada dokumentasi yang ciamik. Pasti pada seneng deh. Sedikit kecewa lainnya adalah tour gue gak mampir ke Pulau Pahawang-nya. Kalau liat dari IG yang dikasih si Sofi (namanya @pahawang_nemo) ada beberapa spot yang bagus. Salah satunya rumah model Maldives yang jadi homestay-nya. Wah kan seru yah. Atau paling enggak bisa eksplorasi Pulau Pahawang. Lagi-lagi gue gak bisa protes karena memang mereka gak mencantumkan itu dalam itinetary-nya. Tour Meskipun ada kekecewaan, tapi secara umum gue amat menikmati tour ini. Worth banget lah. Liat pantainya bagus, snorkeling-nya juga yahud, dan komplit. Wisata laut, ada. Trekking juga ada. Kuliner? Ada. Lengkap kan. Gosongnya kulit sebanding dengan pengalaman yang gue dapet. Oh, satu lagi. Gue gak sempet liat swastamita. Sebel deh. Kirain bisa liat pas di pantai, atau liat pas udah di kapal. Ternyata gak jodoh. Budget Biaya open trip ini kena Rp. 599.000. Karena gue ambil meeting point di Merak, harganya jadi Rp. 574.000. Gue mesti bayar penuh terlebih dahulu, kemudian mereka akan refund. Saat gue tulis ini, mereka udah kasih uang refund-nya. Selain biaya open trip itu pengeluaran yang gue catat adalah sebagai berikut : Bus ke Merak : Rp. 25.000 Jajan di Transmart : Rp. 23.500 Tambah biaya lesehan : Rp. 10.000 Makan nasi uduk : Rp. 10.000 Sewa alat snorkeling : Rp. 55.000 Kelapa muda : Rp. 10.000 Indomie telor : Rp. 10.000 Kelapa muda lagi (patungan) : Rp. 7.500 Upgrade kapal : Rp. 35.000 Bakso SOnhaji : Rp. 25.000 Angkot ke rumah : Rp. 9.000 TOTAL : Rp. 220.000 Total biaya yang gue habiskan di luar biaya open trip sebesar Rp. 220.000. Pengeluaran terbesar ada di sewa alat snorkeling. Rp. 55.000 agak over price gak sih? Tapi karena dipakai seharian jadi yah oke lah. Gue merasakan betul manfaat dari alat itu. Terutama pas pakai kaki katak yang bikin laju berenang jadi lebih cepet. Gue juga jadi bisa berenang mundur sambil terlentang hanya dengan menggerakan kaki. Asik banget. Kalau kacamata mesti pilih yang bagus supaya gak bocor. Beberapa kali gue kemasukan air pas nyelem karena kacamata yang gue pilih gak bagus. Semua oke kecuali bayar kelapa muda sebesar Rp. 15.000. Sebelumnya gue makan kelapa muda cuma Rp. 10.000 dengan kualitas yang bagus, Sedangkan yang kedua ini gue mesti bayar Rp. 15.000 dengan kualitas yang kurang oke. Kelapanya tua. Untung belinya patungan. PENUTUP Lampung ternyata punya banyak spot menarik dalam wisata bahari. Keanekaragaman yang disuguhkan mampu membuat kita menyadari betapa indah dan kayanya alam yang kita miliki. Mengunjungi tempat wisata alam bukan hanya sekadar memenuhi hasrat bervakansi untuk memanjakan mata,telinga, dan panca indera lainnya. Tapi lebih itu; rasa. Rasa kita bersyukur, rasa takjub, dan rasa sadar diri betapa kecilnya kita sebagai manusia. Juga tentang rasa yang bisa dikenang dalam waktu lama dan mengingatnya di kemudian hari. Rasa itu kekal. Begitu yang gue rasakan. Terdengar melankolis? Ah, biar saja.

Share

KOMENTAR :